Ordinary

Posted by: TIARA ANJA KUSUMA in Uncategorized No Comments »

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.
Hanya dengan diam mampu kuurai setiap rasa.
Cukup dengan diam, kupandangi kau yang berlalu.
Memandang siluetmu yang kian menjauh, nanar.

Kita tercipta, bukan untuk menyatukan makna.
Hanya dalam rasa, yang tampaknya takkan pernah terucap bahkan jika sang waktu pun tlah menyerah mempermainkan kita.

Penyair yang tlah mati, bangkit untuk guratkan takdir dengan tawa geli.
Pada selembar kertas, hanya karena tak pernah saling berbalas.

Satir.
Melodi.
Tragedi.
Apalah mereka menyebutnya.

Memutar kembali episode yang ada,
tak pernah ada kunci,
hanya persimpangan yang dapat kita temui.

Memilih,
berbeda,
tak pernah ada ujung yang mempertemukan masing masingnya.

Bila cinta mulai memainkan angkuhnya,
kesederhanaan ikut memilih berganti rupa menjadi kerumitan.

Kita sama,
hanya tak pernah ada kesamaan makna,
kamu pikir begini,
aku pikir begitu,
di saat ini, di saat itu.
Tak pernah ada kesamaan waktu.

Kita berbeda,
bukan dalam nyata.
Hanya dalam alam,
dimana ego menjadi nama sang penguasa.
Pikiran, hati.
Yang tersakiti, dan tak mau mencoba untuk mengerti, menanti sedetik saja, andaikata ego akhirnya mau melepas tahtanya.

Aku makin tak mengerti,
mungkin kau juga makin tak memahami.
Berlari, mungkin cukup bagi kita sejauh ini.
Entah nanti.

Hahhh…
Nyeri itu tak kunjung pergi.
Bahkan ketika kata tlah mencoba mengusirnya.
Tampaknya, kata, guratan, belum cukup.
Lalu apa, pelukan?
Hahhh..makin merancu!

Tikk…tokk..tikk.,tokk…
Waktu?
Entah.
Lewat tengah malam, mata masih enggan terpejam.

Apalagi?
Benci.
Mungkin.
Sedih.
Mungkin.
Cinta.
Asumsikan saja bukan.
Biar enyah, biar pergi.
Lancang, ia bermain dengan waktu, untuk mempermainkan apa yang ada.

Andaikan pada saat itu.
kenapa tak pernah cepat?
Bila begini..apa yang pernah ada, hanya bisa sebatas ada.
Bukan tumbuh, bukan berbunga.
Biarkan tanah tetap menguburnya.
Dalam diam, dengan sederhana.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.
Cukup hanya jauh di dalam sana.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.
Beginilah caraku memaknai sederhana.
Walau mungkin sebenarnya aku memaknai kerumitan yang menanti di seberang sana.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.
Bila saja, kau berbesar hati menerimanya.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.
Cukup hanya jauh di dalam sana.
Terkubur, mati.
karenamu tak tepat waktu.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana……

Cukup hanya jauh di dalam sana…

-feb’11-cukup hanya jauh di dalam sana...

Tawa Anak Jalanan

Posted by: TIARA ANJA KUSUMA in poems No Comments »

senyum anak jalanan

Mimpi mereka sebenarnya tidak semuluk mimpi-mimpi kita,

tetapi sulit sekali bagi mereka untuk mewujudkannya…..

Sang Nabi- Kahlil Gibran

Posted by: TIARA ANJA KUSUMA in poems No Comments »

Sang nabi – Khalil Gibran

Anakmu bukan anakmu

Mereka adalah putra dan putri kehidupan yang mendambakan dirinya sendiri

Mereka datang lewat dirimu namun bukan dari dirimu,

Dan meskipun mereka bersamamu namun mereka bukan milikmu

Kau bisa saja memberi mereka cinta namun bukan pikiranmu

Karena mereka punya pikiran sendiri

Kau mungkin saja menjadi tempat bermukim tubuh mereka namun bukan jiwa mereka,

Karena jiwa mereka berdiam dalam rumah masa depan, yang takkan bisa kau kunjungi, bahkan dalam mimpi-mimpimu

Kau mungkin ingin seperti mereka, namun jangan buat mereka seperti dirimu

Kahidupan tak berjalan mundur maupun terhenti di hari kemarin

Kau adalah busur yang mengirim anak-anakmu sebagai panah yang melesat kedepan

Sang pemanah melihat sasaran di atas jalan setapak keabadian, dan Dia menundukkanmu dengan kuasa-Nya sehingga panah-Nya dapat melaju mulus dan jauh. Biarkan dirimu tunduk dalam tangan sang pemanah dengan syukur; Karena walau Dia mencintai sang panah yang melejit, Dia pun mencintai busur yang kuat.

Khalil Gibran

my first post

Posted by: TIARA ANJA KUSUMA in akademik, Uncategorized No Comments »

ini postingan pertama saya, link ke ipb, link ke ipb